SAMBUNG TEORI DAN REALITA: MAHASISWA BERBAGAI PERGURUAN TINGGI DI BANDAR LAMPUNG MELAKSANAKAN PRAKTIK MENGAJAR DI SMA NEGERI 10 BANDAR LAMPUNG
SAMBUNG TEORI DAN REALITA: MAHASISWA BERBAGAI PERGURUAN TINGGI DI BANDAR LAMPUNG MELAKSANAKAN PRAKTIK MENGAJAR DI SMA NEGERI 10 BANDAR LAMPUNG
Bandar Lampung, 11 Agustus 2026 – SMA Negeri 10 Bandar Lampung kembali kedatangan para calon guru masa depan. Kloter kampus terakhir tahun ini diantarkan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan di Smandasa. Sebanyak 9 orang mahasiswa PPL dari STKIP PGRI Bandar Lampung menemui para guru pamong di Ruang Laboratorium SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Mereka berasal dari beberapa Jurusan Pendidikan antara lain Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sejarah, dan Bimbingan Konseling Pendidikan Islam.
Sebelum STKIP PGRI Bandar Lampung datang, ada 2 kampus lainnya yang sudah lebih dahulu melaksanakan program PPL di Smandasa. Universitas Lampung menempatkan 6 orang mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, sedangkan Universitas Islam Negeri Lampung sebanyak 28 mahasiswa dari berbagai jurusan pendidikan di universitas tersebut. Para mahasiswa UIN Lampung ini berasal dari beberapa Jurusan Pendidikan, seperti Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, dan Bimbingan Konseling Pendidikan Islam.

Pengadaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) baik Program Sarjana Pendidikan maupun Program Profesi Guru (PPG) berada di bawah payung hukum yang jelas dari Kemendikbudristek. Struktur kurikulum yang mencetak calon guru dan kewajiban kegiatan praktik lapangan dari kedua program tersebut diatur dalam Permenristekdikti No. 55 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG). Pengadaan MoU (Memorandum of Understanding) dan PKS (Perjanjian Kerja Sama) secara tertulis antara pihak kampus dengan Dinas Pendidikan setempat menjadi dasar keberadaan para mahasiswa di sekolah.
Banyaknya jumlah mahasiswa yang hadir di dalam kelas menambah warna baru dalam proses pembelajaran. Selain membawa metode dan media pembelajaran yang lebih kekinian, kedekatan usia (peer-like energy) dan penggunaan bahasa kekinian menjadi nilai tambah. Jarak usia yang tidak terlalu jauh dari para peserta didik membuat suasana komunikasi di kelas menjadi lebih nyaman dan minim rasa canggung. Konsep rumit, istilah, bahkan contoh kasus yang dekat dengan dunia remaja saat ini menjadi modal utama dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik. Di sisi lain, para mahasiswa ini menjadi figur baru bagi peserta didik untuk berkonsultasi mengenai dunia perkuliahan, pemilihan jurusan, hingga tips masuk PTN.
“Dari sisi kurikulum, kami melihat bahwa mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai pengelolaan pembelajaran, karakteristik peserta didik, penyusunan perangkat ajar, pelaksanaan pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran di lingkungan sekolah,” ujar Ibu Octa Vienty, S.Pd., selaku Wakil Kepala Bagian Kurikulum. Ia berharap program PPL dapat terus dikembangkan sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menyiapkan calon guru yang kompeten, adaptif, dan memahami kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu Mahasiswa PPL STKIP PGRI Bandar Lampung, Sindi Aista Putri, menuturkan perasaannya saat pertama kali menjalankan program PPL di Smandasa. “Saya merasakan senang, antusias, tetapi juga ada rasa takut dan gugup. Saya bukan hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa nama kampus. Saya ingin memberikan kesan yang baik dan menunjukkan bahwa mahasiswa dari kampus saya mampu bersikap, berkomunikasi, dan mengajar dengan baik. Hal tersebut membuat saya merasa memiliki tanggung jawab yang cukup besar.” Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengaku ingin mendapatkan pengalaman mengajar secara langsung, belajar memahami karakter siswa, mengelola kelas, serta mengetahui bagaimana cara menjadi guru yang baik dan profesional.
Ia ingin belajar dari guru pamong dan guru lainnya tentang cara menghadapi berbagai situasi di lingkungan sekolah yang mungkin tidak diajarkan di bangku kuliah. “Pengalaman ini tidak hanya membuat saya lebih percaya diri dalam mengajar, tetapi juga semakin memahami bahwa menjadi guru membutuhkan kesabaran, tanggung jawab, kreativitas, dan kesiapan untuk terus belajar. Bagi saya, PPL bukan sekadar kewajiban, tetapi langkah awal untuk mempersiapkan diri menjadi guru yang mampu memberikan pengaruh positif bagi siswa sekaligus menjaga nama baik almamater,” ujarnya penuh antusias.
Berkaca dari adanya program praktik lapangan ini, sekolah benar-benar ditempatkan sebagai laboratorium pendidikan. Tidak semua eksperimen berhasil ditemukan formulanya di dalam laboratorium tersebut. Akan tetapi, tidak jarang semua penemuan dan potensi hebat ditemukan di sana. Begitu pula dengan sekolah. Kemampuan problem solving, ketelitian, dan kesabaran menjadi kunci pengembangan soft skills untuk mencetak pendidikan yang memuliakan manusia demi Indonesia Emas di masa depan. Berawal dari bangku kampus ke bangku sekolah, perjalanan sambung teori ke realitas dunia pendidikan dimulai.
***
Penulis : Selviyani Melia, M.Pd.,Gr.
Penyunting : Yulinda Aulia Dahlin, M.Pd.,Gr.
